Utang Pajak

Cetak E-mail
Ditulis oleh Tunggul M Redpel Batam Pos , Sabtu, 10 April 2010 08:49
Akhir-akhir ini dan mungkin ke depan, pemberitaan soal pajak di media-media masih hangat. Apalagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah memerintahkan Satgas pemberantasan mafia hukum untuk melebarkan sayapnya ke daerah. Artinya, Presiden melihat, persoalan permainan pajak dan hukum bukan hanya terjadi di Jakarta dan ikut-ikutan di daerah. Sekarang ini, kita tinggal menunggu, kapan satgas turun ke daerah. Atau jika tak perlu turun ke daerah, tapi dengan adanya instruksi dari presiden, di daerah sudah langsung berbenah. Jika opsi ini yang jalan, sekali lagi, mudah-mudahan juga, instansi terkait atau petinggi di daerah berbenah untuk kebaikan.
Memang masalah pajak ini sudah menjadi masalah kita sehari-hari. Pasalnya, saya dan Anda mungkin sering bayar pajak. Kita minum kopi di cafe saja sekarang kenapa pajak. Sebagai warga negara yang baik, kita bisa menghitung dalam satu tahun berapa pajak yang kita bayar. Mulai dari pajak Bumi dan Bangunan, pajak penghasilan, pajak kendaraan lagi dan lainnya.
Masalah pembayaran pajak ini menurut saya ada kelonggaran atau belum ada sanksi tegas. Pasalnya, instansi yang diberi tugas memungut pajak, setahu saya belum pernah melakukan pemaksaan atau sanksi tegas kepada wajib pajak untuk membayar pajaknya. Atau sejauh ini di Kepri, mudah-mudah saya salah, belum pernah ada berita wajib pajak kena sanksi karena tak mau membayar pajaknya, (kecuali yang terlambat bayar pajak kendaraan di Samsat. Itupun kalau ketahuan saat razia polisi).
Kalau sanksi denda, itu memang ada. Contohnya, saat wajib pajak terlambat melaporkan ke kantor pajak setempat, padahal pajaknya sudah disetor ke rekening yang ditunjuk di bank, juga kena denda.
Tidak adanya sanksi tegas kepada wajib pajak ini saya tangkap dari pemberitaan Batam Pos soal pengelola Pasar Baru di Tanjungpinang. Pengelola pasar tersebut dulunya Perusda Kepri (Sekarang Perusda Bintan) atas nama PT Bintan Inti Sukses (BIS) bisa sampai 10 atau 14 tahun berutang pajak penghasilan. Utang pajak itu pun tak tanggung-tanggung mencapai Rp500 jutaan dan setelah dicicil saat ini masih ada sekitar Rp494 juta. Utang pajak tersebut berdasarkan Surat Ketetapan Kekurangan Pajak dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tanjungpinang adalah pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) perusahaan tahun 1996, 1999, 2000, dan 2002.
Hebat. Pajak yang seharusnya setiap tahun kita bayar, tapi oleh pengelola Pasar Baru, yang pengelolaanya sudah tiga pekan lalu diserahkan ke Pemko Tanjungpinang bisa diselang-selingi. Ada apa ini. Apakah pihak Kantor Pelayanan Pajak tak melayangkan surat tagihan terus. Atau cukup memberi surat pemberitahuan dan menunggu niat baik wajib pajak. Terus yang jadi pertanyaanm, jika tahun 1996 wajib pajak itu berutang, kenapa tahun 1997 tak ditagih. atau pembayaran di tahun 1997 itu dialihkan untuk bayar yang terutang di tahun 1996. Sekali lagi, disinilah yang saya lihat bahwa ada kelonggaran untuk membayar pajak. Tapi saya juga belum tahu, apakah kelonggaran ini berlaku umum, atau untuk kelangan tertentu saja.
Jika ada orang yang menyebutkan terjadinya utang pajak itu karena ketidakpahaman pegawai soal pajak, saya katakan tidak masuk akal. Pasalnya, kenapa utang pajak itu tak berurutan tahunnya. Sebagai contoh, utang pajak tahun 1996 ada, tapi kenapa tahun 1997 lunas. Berarti bukan karena ketidakpahaman staf soal pajak. Jika asumsi pengetahuan soal pajak oleh staf kurang, saya terima, maka munculnya masalah utang pajak pengelola Pasar Baru ini menjadi cambuk kepada semua instansi pemerintahan agar menempatkan orang pada bidang yang dikuasainya, dan bukan karena kedekatan atau karena suka.
Bahkan, utang pajak pengelola ini, belum tahu siapa yang akan menanggungnya. Saya setuju dengan usul Ketua Komisi II DPRD Tanjungpinang, Wan Firman yang menyebutkan, untuk menyelesaikan utang pajak ini, pihak terkait harus duduk bersama membahasnya lagi. Semoga ada yang bertangung jawab. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: