Kenaikan pajak ancam industri otomotif

Tuesday, 16 February 2010
Bisnis Indonesia, 16 Februari 2010

JAKARTA: Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) akan melobi pemerintah daerah untuk mengurungkan rencana menaikkan sejumlah pajak, termasuk pajak penjualan atas barang wewah (PPnBM), yang dinilai mengancam pertumbuhan industri otomotif. Selain itu, organisasi yang kini diketuai oleh Sudirman M.R., Wakil Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM), juga akan berupaya meyakinkan pemerintah agar mengubah kebijakan pajak progresif kepemilikan kendaraan bermotor yang dinilai tidak tepat.

“Ini menjadi rencana jangka pendek,” ujar Sudirman yang terpilih sebagai ketua umum Gaikindo periode XIV 2010-2013 pada rapat umum organisasi itu di Hotel Nikko, Jakarta, kemarin.

Sudirman menyatakan segera membentuk tim khusus untuk bertemu dengan pemda dan memberi sejumlah masukan tentang penerapan pajak progresif. Setidaknya, lobi sudah mulai dilakukan dalam 3 bulan pertama setelah kepengurusan baru Gaikindo terbentuk.

Para pelaku industri otomotif menilai penerapan kebijakan pajak secara progresif, dan rencana kenaikan PPNBM kurang tepat karena akan menekan permintaan produk otomotif, dan selanjutnya berdampak pada penerimaan negara dari sektor pajak.

Sudirman menuturkan implementasi pajak progresif yang wewenangnya di tangan pemda akan mengganggu pertumbuhan pasar otomotif nasional. Pasalnya, pasar kendaraan bermotor roda empat tengah bangkit, setelah tertekan dampak krisis keuangan global sejak 2008. Pada tahun ini, Gaikindo memproyeksikan penjualan mobil mencapai 550.000 – 600.000 unit atau bertumbuh sekitar 14% dibandingkan dengan capaian tahun lalu sebanyak 486.061 unit.

Plt. Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto mengatakan rencana kenaikan pajak otomotif menjadi satu kekhawatiran bagi pertumbuhan industri mobil, yang memang rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan isu perpajakan.

“Kalaupun pajak barang mewah dinaikkan untuk produk mobil secara spesifik, tetapi hal itu akan menjadi persepsi negatif bagi investasi di Indonesia,” katanya.

Prijono berharap tidak ada kenaikan pajak, mulai dari BBN, PPnBM, PKB, hingga PPH Pasal 22, karena beban pajak yang terus ditambah membuat daya industri berkurang. Apabila pajak kendaraan bermotor dinaikkan secara progresif, seperti PPnBM menjadi hingga 200%, pasar mobil nasional diproyeksikan anjlok minimum 20%.

Komisaris Utama Indomobil Group Subronto Laras menilai kebijakan pajak progresif terkesan hanya didasarkan pada kekhawatiran pemerintah terhadap makin padatnya kendaraan di jalan hingga memicu kemacetan.

Menurut Subronto, pandangan tersebut kurang tepat karena bukan industri yang seharusnya salahkan, melainkan peningkatan dana untuk pembangunan infrastruktur.

“Uang yang masuk ke kas negara dari sektor ini sangat besar. Tetapi yang dikembalikan untuk peningkatan infrastruktur jalan hanya 15%. Ini yang harus kelola dengan baik, anggaran infrastruktur ditingkatkan, bukan industri yang ditekan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: